Selasa, 27 November 2012

Adaptasi

Pas liburan kemarin, ada beberapa kejadian accidental yang sialnya alhamdulillahnya menimpa gue. Kalo lagi kumpul berempat, entah kenapa selalu gue yang kena, ada aja bahan ledekannya. Belakangan gue baru tau, seorang senior di kampus bilang muka gue animated sekali, semacam overaction jadi menimbulkan arousal bikin orang pengen ngebercandain gue. Ya intinya, muka gue ini tipe-tipe yang enak buat ditindas -_-". Yah mungkin itulah salah satu alasan kenapa gue jadi objek ledekan kalo lagi kumpul di rumah. 

Jadi waktu itu lagi sore-sore sekitar jam 4, sebenernya sih gue lagi ga enak badan tapi dipaksa berenang sama adek gue. Yowis lah akhirnya gue nyemplung juga. Jadi gue berangkat ke pool terpisah sama dia. Gue nyusul dan berjalan dengan pedenya tanpa softlense atau kacamata. Udah tau clumsy, pas mau naik tangga gue kesandung dan sukses nabrak tangga yang dibuat dari batu dan ujungnya tajam luar biasa. Eh engga sih, itu lebay, tapi tangganya cukup tajam untuk membuat jempol kaki kiri gue luka, kukunya seperempat terbuka dan berdarah.

Entah, meskipun berdarah dan lukanya cukup besar gue malah tetep aja berenang. Ternyata sensasi luka yang kena air berkaporit itu *speechless*. Cukup perih, perih banget bahkan. Kemudian hari berikutnya udah berencana bakal ke rumah sakit buat operasi kecil pencabutan kuku yang terbuka itu karena ganggu banget. Mau cabut sendiri, takut soalnya ngilu banget. Tapi apa daya semua cuma wacana, karena flight kami yang terlalu malam, mata dan kaki udah ga sanggup buat melangkah ke rs, jadi yasudahlah diputuskan esok harinya lagi baru ke rumah sakit.

Paginya, waktu bangun tidur gue liat ternyata kukunya udah copot. Gatau gimana caranya, mungkin karena gaya tidur yang tidak biasa menciptakan gesekan yang menimbulkan gerakan gerakan yang menimbulkan copotnya kuku gue #apasih. Pokoknya kukunya udah copot deh. Tapi karena ga jadi ke rs dan di rumah ga ada perban, yasudahlah lukanya dibiarkan terbuka. Ekspektasi gue, luka yang terbuka ini akan menimbulkan rasa sakit yang lebih karena tidak ditutup, tapi ternaya dia malah cepat sembuh, karena bisa beradptasi dengan lingkungan.

Jadi asosiasinya gini. Dalam hidup, ga jarang kita bertemu dan tersandung kerikil kehidupan. Tersandung masalah sering membuat luka di hati, entah itu permanen atau temporer. Bagaimana menyembuhkannya itu tergantung dari bagaimana kita memperlakukan luka itu. Bisa jadi dengan menjadi tidak manja dan mau membuka diri (seperti luka gue tadi) luka itu bisa cepat sembuh, karena kita melakukan proses pembiasaan di sana. Biasa terluka bikin kita jadi kebal, lebih kuat. Daripada menutup luka. Analoginya menutup semua kemungkinan baru. Menutup akses dunia luar untuk menyembuhkan lukanya. Jadi ya lukanya ga akan sembuh. 

Intropeksi dulu salahmu dimana, kenapa bisa luka itu terjadi? Mungkin eror dari kamu atau dari mana. Perbaiki yang menurutmu salah. Intinya, kalau kamu punya luka. Jangan simpan sendiri. Nanti jadi tambah sakit sendiri. Better buka saja lukanya, biasakan luka itu dengan lingkungan. Latih lukanya biar bisa beradaptasi dan terbiasa dengan lingkungan baru, orang-orang baru. Jadi pribadimu nantinya jadi jauh lebih kuat dari sebelumnya. Bisa jadi lingkungan dan orang-orang baru bisa membuatmu lebih nyaman :)


.annisaauliajustmine

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar