Sabtu, 06 November 2010

kacamata

menunggu papa yang lagi antar mama ke dalam kereta menuju jogja. kulepas kacamata silinderku, yang tampak hanya beberapa titik cahaya yang berjalan menjauh dan mendekat, iya itu lampu mobil yang lalu lalang di daerah stasiun jatinegara. baru kusadari bahwa ternyata kacamata membuat sesuatu tampak berbeda, ya, layaknya sebuah sudut pandang dalam hidup ini.

...
disaat papa dan mama keluar, hanya aku dan abang* didalam mobil. meski sebentar tapi kurasa perbincangan tadi cukup bermakna. banyak hal yang kami bicarakan, mulai dari ingin tinggal dirumah lama karena rasa kangen yang membuncah, berbagi cerita tentang omelan-omelan mama papa, menggerutu kenapa papa ga bisa nemenin mama pergi kejogja disaat jogja sedang dalam keadaan seperti ini, soal mama yang memarahi pacar abang karena mama ingin mereka fokus belajar, tentang betisku yang makin besar sejak aku jalan bolakbalik kampus-kostan, sampai pertengkaran yang sering terjadi dirumah kami. dan pembicaraan kami selesai sampai papa kembali ke mobil.

dari pembicaraan tadi, aku mulai bisa lebih memahami masalah dari sudut pandang abang. selama ini aku rasa abang adalah sosok yang egois dan ingin menang sendiri. jarang sekali ia mau minta maaf kepadaku disaat aku menyadarkannya bahwa ia punya salah. pribadinya memang keras, tapi satu yang kutau, ia jujur. ia jujur tentang apa yang ia rasakan selama ini kepadaku. selama ini aku tak tau dibalik koar-koarnya ia ingin beli motor baru untuk papa, ternyata karena memang motor papa yang remnya sudah hampir blong dan rusak dibeberapa bagian lainnya karena papa ga punya waktu untuk menservice motor jadulnya itu. ternyata dengan hal-hal seperti itulah dia menunjukkan rasa sayangnya ke papa. begitu juga dengan pulang malam karena harus mengerjakan tugas kelompok, karena itu ia harus rela dimarahi mama. setelah kutanya "kenapa abang pulang malam?" "aku ngerjain tugas kelompok kak, katanya mama mau liat aku pintar, aku belajar sungguh-sungguh kak". ah, ternyata ada semua alasan itu dibalik semua kecurigaanku.

iya terus-terusan memarahiku dan ia bilang, ia tak suka diceramahi. meski begitu dia tetap saja mendengarkan ocehanku. karena kuanggap aku sebagai seorang kakak harus bertanggung jawab memberinya wejangan, bagaimanapun aku telah hidup lebih lama dari dia meski cuma beda 2 tahun. aku mengerti tentang gejolak anak sma yang sedang ia alami. maka tak salahkan jika aku menasehatinya? tak hanya membagi ilmuku kepadanya. dari pembicaraan singkat tadi, kudapatkan sesuatu dari abang. cobalah kak, kakak lihat sekitar menggunakan "kacamata" atau sudut pandang yang berbeda. jangan kakak kira semua yang kakak lihat dari "kacamata" kakak itu benar, karena "kacamataku" berbeda dengan "kacamata" kakak, meski kita punya tujuan yang sama.

*abang itu adik laki-lakiku yang luar biasa :)

.annisaauliajustmine:)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar