Kamis, 04 April 2013

Belajar

Kehidupan gue berjalan dan berputar bersama orang-orang yang kurang lebih homogen. Serupa, tapi ga sama. Kenapa bisa serupa? Karena tiap tindak tanduk kita tanpa disadari masuk ke dalam alam bawah sadar orang lain, kemudian di dalam sana otak bekerja dan kemudian tanpa disadari pula orang lain itu pun menghasilkan perilaku yang cenderung mirip. Di titik ini gue mulai menyadari, bahwa penting untuk berbaur dengan yang berbeda untuk memperkaya pengetahuan gue tentang dunia. Karena dunia yang gue tau cuma ini dan gue harus mencari tau tentang itu.

Salah satu caranya adalah ikut kelas bahasa isyarat. Atas anjuran teman, akhirnya dengan sedikit perjuangan lebih, gue bisa dapet kelas ini. Hampir seluruh pengajarnya adalah tuna rungu tapi ada satu atau dua orang interpreter di kelas yang membantu. Dari kelas ini banyak hal yang gue pelajari, bagaimana antar mereka berkomunikasi tanpa mengucap dan mendengar, bagaimana mereka menghargai orang lain lewat bahasa isyarat. Ekspresi menjadi satu aspek penting, karena tanpa ekspresi bahasa isyarat hanya gerakan tangan tanpa makna. Diciptakan juga isyarat dari kata maaf, tolong dan terima kasih. Mereka yang tidak bisa mengucap saja punya bahasa untuk mengungkapkan penghargaan terhadap orang lain, kita yang punya suara tapi pelit mengucap maaf, tolong dan terima kasih apa ga malu sama mereka?

Kemarin siang gue berkesempatan untuk bertemu dengan seorang veteran. Namanya kakek JM. Pandjaitan.  Beliau cerita banyak soal perjuangan, dari masa sebelum proklamasi, merdeka, sampai Belanda mau mengakui kemerdekaan Indonesia. Ditemani bolu keju buatan istrinya, gue dan beberapa teman mendengarkan cerita beliau. Banyak ilmu yang gue dapet. Tapi lebih banyak lagi tamparan yang berasa. Beliau merasa kecewa sama generasi sekarang yang kebanyakan berjiwa vandalis. Ga punya rasa persatuan kesatuan seperti dulu, satu sama lain ga lagi menghargai. Gimana mau bangun bangsa kalo rakyatnya ga merasa satu tubuh? Tiap individu sibuk sama gadgetnya masing-masing, rasa kebersamaannya pun luntur. Jadi malu sendiri dengernya. Entah perubahan apa yang bisa gue lakukan buat negara seluas ini, yah minimal jangan jadi pribadi yang suka bikin masalah, negara ini sudah punya banyak masalah, janganlah ditambah lagi.

Dua sudut pandang baru. Melihat dunia dari sisi penyandang tuna rungu dan lansia. Baru dua aja udah banyak hal baru yang buat gue jadi tau lebih. Masih banyak bagian dunia lain yang bisa dieksplor ilmunya. Belajar ternyata bisa sefun ini juga. Coba keluar dari comfortzone beserta mereka yang homogen, pasti seru!

.annisaauliajustmine

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar