Selasa, 09 April 2013

When pleasure becomes pain and pain turns to pleasure


Opponent Process Theory: A theory suggested by Solomon where emotional reactions to a stimulus are followed by opposite emotional reactions.


Beberapa minggu lalu gue diberi materi kuliah yang berhasil menjawab pertanyaan yang cukup sering gue temui dalam kehidupan sehari-hari. Sering ga sih lo merasa aneh dengan reaksi yang berlawanan sama sekali dengan yang seharusnya? Contoh, di acara perpisahan sekolah bukankah kita merasa senang karena sudah berhasil menuntaskan masa pendidikan yang penuh dengan ujian dan segala rupa yang cukup menyulitkan? Bukannya itu sebuah prestasi yang cukup membanggakan? Lalu kenapa kita menangis?

Contoh lain, waktu tiba-tiba terkena musibah pasti kita menyesali atas musibah yang terjadi terhadap diri kita. Kalo anak jaman sekarang sih, kebiasannya mengumpat atas musibah yang terjadi. Merasa sial dan menyesali. Tapi biasanya setelah menyesali ada perasaan lain yang timbul untuk melengkapi rasa sebelumnya, biasanya kita menyeimbangkannya dengan mencari hal positif dari musibah yang terjadi. Biasanya sih muncul diawali kata-kata "Untungnya gue gajadi..." "Masih untung cuma...daripada..." "Alhamdulillah masih dikasih kesempatan, coba engga...", yaa begitulah kira-kira. 

Teori ini menjelaskan bagaimana why so often our pleasures turn into problematic addictions and, conversely, why our stressful experiences frequently lead to sustained good feelings and even happiness. Lucu ga sih? I mean, sesuatu yang menyenangkan lama kelamaan akan menjadi sebuah hal yang menimbulkan emosi negatif, dan sesuatu yang bikin kita stress justru seiring berjalan waktu bisa menjadi hal yang menyenangkan.Hal ini bisa terjadi dijelaskan melalui 2 proses, yakni A-Process dan B-Process.


 when a pleasure becomes pain

Dalam A-Process muncul respon emosi cenderung refleks terhadap stimulus yang diberikan, entah itu menghasilkan perasaan menyenangkan atau tidak. Mengapa masuk dalam respon refleks? Karena terjadi tanpa ada proses berpikir. Kemudian setelah beberapa waktu, terjadilah B-Process. B-Process adalah muncul respon yang berlawanan dengan respon yang muncul di A-Process, jika tadi timbul rasa senang, maka muncul rasa sedih, tidak puas-puas, atau dalam bahasa latinnya adalah Vice Versa. Sifat respon dari B-Process ini biasanya bisa bertahan lebih lama dibandingkan dengan respon A-Process.

Dari teori ini kita bisa meyakini bahwa pasti selalu ada timbal balik dari setiap hal. Ada kesedihan dibalik kebahagiaan, ada kemudahan dibalik kesulitan, ada kesenangan dibalik rasa sakit. Itu pasti :)


.annisaauliajustmine



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar