Selasa, 25 Juni 2013

Bicara BBM

Lo ngomongin BBM, emang lo siapa Nis? 

Iya, iya, sadar kok gue bukan siapa-siapa. Tapi bukan berarti gue ga boleh ngomongin BBM kan? Gue adalah seorang warga negara yang sebenernya cukup aware sama isu tentang negara kita ini, bukan karena naluri, tapi karena rentetan acara televisi makin penuh sama sampah, jadi gue lebih sering melototin channel berita. Dalam dua mingguan ini di berita berbagai media bisa kita liat demo tolak penaikan BBM oleh berbagai lapisan masyarakat di berbagai daerah. Termasuk teman-teman mahasiswa. Seperti yang pernah gue bilang di sini, gue ga pernah ikut aksi, begitu juga di aksi tolak penaikan demo BBM.

Sebagai warga negara kelas menengah, penaikan harga BBM ini cukup berpengaruh dalam kehidupan gue. Pasalnya tarif angkutan ikut naik, padahal belum lama naik. Belum lagi kalo pas gue bawa kendaraan sendiri, bensin lima puluh ribu ga bakal berasa. Ya, sepertinya masih bisa lah ditanggulangi, tapi enggak buat bapak satu ini. 

Kemarin siang rumah gue didatangi seorang surveyor. Kebetulan gue di rumah sendiri, jadi gue yang menanggapi bapak ini. Namanya pak Andri, dia datang naik motor yang bisa gue bilang cukup tua, terdengar dari suaranya yang terlalu nyaring cenderung cempreng. Selepas nyelesein tugasnya, sambil minum dia nanya gue kuliah di mana, gue jawab di UI. Responnya ga seperti yang gue bayangin, dia langsung memberikan jempol ke arah gue. 

"Saya salut mbak, sama teman-teman mbak yang pada pake jaket kuning pas demo penaikan harga BBM kemarin. Memang mahasiswa adalah pahlawan garda utamanya rakyat kecil macam saya ini. Sampaikan salam saya buat temen-temen mbak ya, tolong bilang terima kasih dan jangan lelah membantu kami. Bagi saya yang gajinya cuma satu jutaan, satu perak saja sangat berarti mbak, apalagi bensin naik dua ribu, makin kecekek aja leher saya. Gaji satu juta lima ratus harus dipotong pajak buat menggaji para pejabat negara yang kenyataannya lebih nyengsarain saya. Saya gatau letak adilnya dimana, mbak"

Aduh, sedih dengernya. Pak Andri nyeritain kesulitan hidup di bawah himpitan ekonomi yang kian haris kian mencekik. Hebatnya dia masih semangat hidup, dia masih percaya akan ada perubahan besar di negri ini, yang bisa membuat seluruh rakyatnya hidup lebih sejahtera, entah bagaimana caranya. Sabar banget beliau ini. Entah kenapa, tetiba gue keinget papa. Gue ngebayangin kalo posisi papa ada di posisi pak Andri, belum tentu kita kuat bertahan. Setelah minum dan makan kudapan kecil yang gue bawa dari dapur, pak Andri pamit pulang dan mengingatkan gue untuk menyampaikan pada teman-teman mahasiswa.

Gue ga ngerti, kenaikan harga BBM-keempat kalinya-di masa pemerintahan presiden ini, apakah sudah merupakan langkah yang tepat untuk mensejahterakan semua? Entahlah, gue ga paham perhitungan mereka, apa sudah berdasarkan survey langsung ke kehidupan rakyat kecil atau berdasarkan data di kertas mereka yang mungkin pendataannya kurang-atau-tidak akurat. Berdo'alah semoga para pejabat-yang katanya pro rakyat bisa ingat terus bahwa mereka digaji rakyat, untuk mensejahterakan rakyat dengan kebijakannya. Bukan digaji rakyat untuk membuncitkan rekening mereka.




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar