Rabu, 24 Juli 2013

Transisi

Tidak ada yang tetap di dunia ini, karena semuanya berubah. Oh, salah, ada satu hal yang tetap. Yang tetap ada, yang tetap hadir dan tidak berubah ya perubahan itu sendiri. 

Egois kalo bilang gue mau semuanya stagnan, diam, tanpa bergerak ke arah manapun. Sedangkan sadar atau tidak gue pun berubah. 

Salah satu penyebab timbulnya masalah yang jika berlarut bisa menimbulkan stress adalah Life Trasition. Transisi. Dalam hidup, manusia pasti merasakannya. Waktu terus berjalan, tanpa kamu bisa tolak. Dari bayi kemudian anak-anak, remaja, dewasa, menua. Meskipun ada cream anti-aging untuk mengantisipasi keurt di kulitmu, tapi usiamu tetap bertambah, bukan? 

Pada kenyataannya gue merasakan sendiri betapa masa-masa transisi dalam kehidupan menimbulkan banyak masalah, baik masalah internal diri maupun dari luar. Akan tetapi masalah tersebut lebih banyak berasal dari dalam diri, mengingat gue agak sulit menerima perubahan. Jika bicara transisi tentunya tidak dapat dipisahkan dari perubahan, pasti.

Ada satu masalah yang terus hadir di setiap masa transisi gue. Waktu SD gue punya seorang sahabat yang terus satu kelas sampai SMP. It means, gue menghabiskan waktu anak-anak hingga remaja awal bersama dia. Terbiasa bersama selama kurang lebih 12 tahun membuat gue agak enggan untuk berpisah. Tapi mau apalagi, gue saat itu harus pindah rumah dan meneruskan sekolah di kota lain yang cukup jauh dari kota di mana dia berada. Saat memasuki dunia baru, lingkungan SMA gue sempat sedikit shock. Ga parah memang, hanya butuh waktu untuk beradaptasi. Pertemanan gue dengan sahabat gue dari SD itu masih berlanjut, tapi karena komunikasi yang tidak berjalan dengan lancar maka tak jarang kami mengalami cekcok. Jauh dari dia gue agak uring-uringan. Ya gatau kenapa, karena belum bertemu dengan yang cocok mungkin. 

Lama-kelamaan ada kecocokan yang bisa ditemukan di diri teman-teman baru gue di sekolah. Kemudian uring-uringan gue pun sedikit berkurang. Dekat dan dekat. Lalu gue harus pindah sekolah, sammpai sekolah baru pun begitu galau dan uring-uringan. Sebenarnya begini, dalam proses mengenal dan berkenalan dengan teman-teman baru gue ga begitu mengaami kesulitan, hanya saja di balik seyum sumringah yang ditampilkan ada perasaan ingat yang dulu. Iya, saya tipe orang yang agak sulit move on. Gue selalu mikir, apa ya yang lagi dikerjain sama sahabat gue, sama temen lama gue, pasti asik, mereka inget gue ga ya. Intinya sih gue masih mau terus sama mereka. Ga semudah itu sayangnya.

Sudah dekat dengan teman-teman di SMA baru, harus terpisah lagi karena harus lanjut kuliah. Di dunia perkuliahan ini setelah dua semester pertama, gue menemukan teman-teman dekat, teman-teman layer satu dalam kehidupan gue, ya sebegitunya. Kita kemana-mana bareng, berangkat kuliah bareng, masuk kelas sama, istirahat makan plus sholat bareng, pulang bareng, makan malem bareng, ya kemana-mana bareng. Bahkan yang tadinya kosannya berada di daerah yang terpisah sampe pindah ke satu daerah yang sama. Hampir tiga tahun begini. Nyaman sekali. Sampai masa transisi itu datang lagi.

Satu dari kami harus cuti satu tahun karena ada satu urusan di luar negri. Biasanya, sebelum dia pergi, setiap pagi kita selalu saling bangunin, siapa pun yang bangun tidur duluan. Ba'da subuh kita berdua skipping dan dilanjut sarapan oatmeal vanilla sebelum berangkat kuliah. Kamarnya tepat ada di depan kamar gue, bayangkan intensitas pertemuan kami. Di awal kepergian dia, gue sempet ngerasa kehilangan banget, ya sedih aja gitu. Cemen ya? Tapi mungkin ga begitu seberapa, karena sebelum dia pergi ke luar negri, temen gue satu lagi juga pindah ke kosan yang sama, posisi kamarnya juga di depan kamar gue tapi agak serong. Setelah ditinggal ke luar negri, aktifitas apapun ya gue lakuin bareng temen gue yang satunya lagi. Iya kemana-mana dan ngapain aja.

Sesungguhnya gue bisa aja kuliah sambil pulang pergi ke rumah tanpa ngekos, hanya saja gue memikirkan bagaimana kabar pertemanan gue dengan mereka ini? Sejak gue pindah jurusan yaa jadi susah banget ketemu, bakal tambah susah ketemu kalo gue ga ngekos. Jadi tujuan utama gue ngekos adalah untuk mendekatkan diri dengan mereka. Kemudian sekarang, teman yang kamarnya di depan agak serong tadi juga pindah ke kosan yang lain dengan alasan agar lebih sehat, karena merasa sirkulasi udara di kamarnya kurang baik dan terlalu sempit. Sekarang tinggal tersisia gue di kosan itu. 2 bulan belakangan gue ga menempati kamar namun sewanya tetap dibayar, kebetulan lagi libur. Satu bulan ke depan sewanya habis, entahlah lanjut lagi atau engga. Kalau gue tetap di sana gue sendiri. Iya, sendiri. Gue lupa kalo nantinya manusia mati masuk ke liang kuburnya masing-masing, tidak berkawan. 

Kemarin (23/07) kami berlima semacam reuni lagi. Satu tahun sudah lewati, dia kembali dari perantauan, semua berkumpul, buka puasa bersama. Kami bertemu di tempat biasa. Berlima. Sekilas, sama seperti kita yang dulu. Tapi bila ditelaah, kita bukanlah yang dulu. Dia membawa sejuta perubahan dari negeri yang butuh 18 jam untuk sampai di sana. Berubah lakunya, berubah muka, berubah juga lidahnya. Dia yang lain, berubah aksennya, berubah juga lakunya karena lama tak jumpa dengan kita, lebih banyak dia habiskan waktu bersama kekasihnya. Dia yang satunya wajahnya makin cantik, makin baik dan seperti biasa, makin banyak temannya. Dan dia yang itu memangkas sedikit rambutnya, ya mungkin simbol dari kesiapannya menghadapi hari yang baru selepas melepas pegangannya. Sementara gue? Tidak ada yang berubah.

Melihat mereka berubah agak sedikit membawa corak pertemanan kami berubah. Ah mungkin perasaan gue aja. Sensitif nih kalo ngomongin beginian. Mereka berubah ya normal, karena memang hakikatnya manusia akan selalu berubah. Gue sayang mereka semua, gue mau kita tetep seperti biasa, sementara yang gue sebut biasa adanya di beberapa waktu lalu, sementara sudah maju berapa ratus hari. Ya ga bisa lah, Nis! Menampik perubahan adalah bodoh. Yes, i am. Di kumpul-kumpul kemaren, gue banyak mikirnya, jadi kurang bisa menikmati, padahal jarang bisa begini. Gue mau semua dan mereka tetap sama seperti apa yang gue mau, sama seperti apa yang otak gue pikirkan tentang kita.

Intinya sih gini nis "Semua hal di dunia ini pasti berubah. Pikiran tentang suatu objek tersebutlah yang tidak berubah". Melihat sisi ini, berarti salah ada di gue. Menuntut semua untuk tetap sama, padahal itu ga mungkin bisa. Belajar, Nis. Belajar untuk bisa menerima perubahan.

Maaf ya kawan, gue cuma kangen, tapi kebangetan.


.annisaauliajustmine

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar