Rabu, 16 Juli 2014

Bro-Sist

Hola!
Entah mengapa ada rasa yang sama antara bulan ramadhan tahun ini dengan bulan ramadhan dua tahun lalu. Dulu, kira-kira masih kuliah di sastra jerman, adikku si Iqbal sakit typhus dan harus dirawat di rumah sakit. Dalam waktu yang sama, mama dan papa juga sakit dan terbaring di rumah ga boleh kerja. Akhirnya saya harus menjaga adik dan bermalam berhari-hari di rumah sakit, dan juga sambil bolak balik ke rumah untuk mengecek keadaan orang tua. Dari 4 orang anggota keluarga yang ada, cuma saya seorang yang bisa menjalankan puasa. Rasanya? Ga enak sama sekali. 

Tahun ini saya sudah pindah jurusan dan adik saya sudah berstatus mahasiswa. Di ujung ujian akhir semesternya ia sudah jauh-jauh hari membeli tiket untuk pulang ke rumah. Jarak Surabaya-Jakarta yang jauh membuat kami sering-sering berkomunikasi dengan cara video call hampir tiap malam. Beberapa hari dalam minggu ujian, dia jarang menghubungi saya dan mengeluhkan demam yang kadang datang dan kadang pergi. Sampai di perjalanan pulangnya, ia membuat kami semua khawatir karena kami kehilangan kontaknya. Ternyata  di dalam kereta selama perjalanan Surabaya-Jakarta, dia menahan dingin yang luar biasa. Ia terlihat begitu pucat dan suhu tubuhnya tinggi. Khawatir dan kami pun pergi ke rumah sakit. Ya ya. Ternyata penyakit yang menghinggapinya sama seperti penyakit saya beberapa bulan lalu. Suspect db dan kemudian dirawat inap. 

Alhamdulillah, kali ini dia hanya dirawat 3 hari, ga betah katanya. Lumayan juga 3 hari di rumah sakit, puasanya ga sahur terus -_-. Tapi rasa-rasanya setelah 3 hari terus bersama, kami jadi kembali dekat. Kesibukan dan jarak membuat kami terpisah. Selama 3 hari di ruangan yang sama dan dia bergantung dengan saya karena mobilitasnya terhambat, kami banyak membicarakan banyak hal. Mulai dari masa kecil, kepribadian masing-masing, cerita selama di kampus, cita-cita kami, bahkan soal pasangan hidup. Andai tiap hari bisa seperti ini, minus keadaan rumah sakit ya haha. Kadang, saudara laki-laki suka menutupi perasaannya hingga kita tidak bisa menerka apa yang ia pikirkan. Butuh usaha lebih untuk mengetahui apa yang sebenarnya dia pikirkan. Yaa susah-susah gampang. 

Intinya, kalau punya saudara laki-laki, coba sekali-kali ajak dia pergi atau mungkin cukup di rumah, namun ciptakan suasana yang kondusif untuk berbicara hati ke hati. Karena kamu pasti akan menemukan hal-hal yang ternyata ia pikirkan tentangmu yang mungkin tak pernah terpikiran sebelumnya. Kadang, kamu bisa menyadari bahwa ada ikatan batin yang terjalin antara kamu dan dia. Apapun yang terjadi dengan hidupmu, kamu bisa bermusuhan dengan teman dekatmu, kamu bisa menjauhinya dan tidak berhubungan sama sekali. Kamu bisa bertengkar dengan pasanganmu dan akhirnya tidak bertemu lagi satu sama lain. Tapi ketika kamu bermusuhan dengan saudaramu, usaha apapun yang kamu lakukan untuk mebenci dan menjauhinya, kamu tidak akan pernah terlepas darinya, karena kalian terikat selamanya satu sama lain, oleh batas imajiner. Jaga hubungan dan kenali saudaramu :)

.annisaauliajustmine

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar