Jumat, 03 Oktober 2014

Be Grateful

Di kelas Psikologi pendidikan kemarin sore, kira-kira pukul 18, saat dosen sedang keluar sebentar, seorang teman menyerukan kabar buruk.

" Eh, ada kejadian lagi di stasiun kampus, ibu-ibu nabrakin diri ke kereta"

Berita merebak, suasana kelas tetiba riuh, terdengar teman-teman saling kasak kusuk ingin tau kabarnya lebih lanjut. Cerita yang merebak dari sana sini menjelaskan bahwa ibu tersebut putus asa terhadap penyakit menahun yang dideritanya. Ia terlihat bingung dan mondar mandir di sekitar rel sebelum kereta datang. Setelah terdengar sirene dari stasiun UI, ia terus bergegas menuju rel dan menabrakan dirinya.

...

Sore ini, kurang lebih di waktu yang sama pukul 18 dan tak jauh dari lokasi kejadian kemarin, saya melihat seorang pengamen buta yang sedang dituntun oleh seorang lelaki yang usianya lebih muda, dalam asumsi saya, ia mungkin anak atau rekannya. Ia membantu pria buta itu berjalan perlahan melewati rel kereta yang tentunya bertekstur tidak halus. Dituntunya pelan-pelan sampai berhasil menyebrangi rel.

...
Sesudahnya, muncul secara langsung kalimat ini dalam benak saya

"Tempat yang ini menjadi saksi seseorang yang hendaya akan nasibnya dan seseorang yang lain yang bisa mensyukuri nasib serta terus berupaya untuk memberdayakan hidupnya"

Terlepas dari usaha yang telah ia lakukan untuk mempertahankan hidup sebelumnya, ia tetap memilih untuk mengakhirinya dengan cara yang ia tempuh. Mereka sama-sama diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk menjadi manusia dan hidup. Mereka memiliki pilihan untuk menjadikannya berarti atau tidak. Mereka memiliki kehendak bebas untuk menentukan jalan yang ingin mereka pilih. Informasi mengenai peristiwa bunuh diri tsb memang masih kurang, tapi biasanya dalam kasus bunuh diri terdapat perasaan putus asa akan apa yang dialami atau dimiliki.

Saya melihat ada satu hal serupa yang ditanggapi secara berbeda oleh mereka. Bersyukur. Ya, saya paham bahwa bersyukur tak hanya soal mengucap Hamdallah. Syukur adalah tentang menerima apa yang diberikan Tuhan dan memberdayakannya untuk hal-hal baik yang bisa bermanfaat untuk diri sendiri, terlebih untuk maslahat. 

Perlahan saya telisik lebih dalam, ternyata banyak sekali hal yang seharusnya bisa saya nikmati dan hayati lebih sebagai wujud syukur. Mata yang selalu ada untuk melihat pahit manisnya hidup, kaki yang senantiasa menemani langkah ke tiap penjuru, nafas yang bisa didapatkan secara percuma tanpa perlu membeli tabung oksigen, bisa memilih mau makan apa untuk memenuhi hasrat lapar, bisa terus mendapat ilmu dan belajar di lingkungan kondusif, punya orangtua yang selalu ada setiap dibutuhkan, punya teman-teman yang perhatian. Apa lagi? Banyak nikmat yang terlupakan. Coba lihat lagi ke dalam dan bersyukurlah :)

.annisaauliajustmine

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar