Kamis, 04 Juni 2015

Anak dan Dunianya

Sambil menunggu kegiatan magang akan dimulai, saya coba mengisi waktu dengan belajar masak di rumah seorang sepupu yang tinggal tak jauh dari rumah. Reancananya begitu, tapi justru kemarin saya menjaga dan bermain dengan anak-anak sepupu saya. Hehehe, ga apa sih sebenarnya.

Sepupu saya memiliki 3 orang anak. Kemarin saya bermain dengan ketiganya. Anak pertama usianya 7 tahun, anak kedua hampir 2 tahun dan anak ketiga baru beberapa bulan. Mereka sama-sama berada dalam kategori anak-anak, namun berada pada rentang yang berbeda, maka mereka punya karakteristik khas yang berbeda pula sesuai dengan usianya. Si sulung, kemarin baru saja menyelesaikan ujian di sekolahnya. Ia kemudian menarik saya untuk pergi ke kamarnya dan melihat ia menyanyi dan berlenggak-lenggok bak model. Setelah saya ingat-ingat, usianya ini masuk pada tahapan psikososial erikson, industry vs inferiority, dimana orang tua atau orang dewasa di sekitarnya harus peka akan kebutuhannya, mendorong dan mengembangkan ide atau sikap yang ia tunjukkan. Oleh karenanya, ketika si sulung mengungkapkan idenya untuk melihatnya tampil menyanyi, saya coba ikuti, agar inisiatifnya terus berkembang. Tak hanya itu, mencoba mengikuti ide dan keinginannya selama itu positif dapat meningkatkan perasaan 'mampu' dan 'percaya diri' dalam dirinya sendiri.

pictfrom: pixshark.com
Beda dengan si sulung, abang, atau si anak tengah ini sedang sibuk 'belajar bicara'. Usia abang masuk dalam tahapan autonomy vs shame and doubt. Seperti sewajarnya anak di usia tersebut, abang adalah seorang anak yang begitu aktif, bergerak sana sini, ambil barang ini itu. Orang tua dan orang dewasa di sekitarnya perlu memberikan kebebasan atas berbagai hal yang ia lakukan. Biarkan ia merasakan otonomi atas dirinya sendiri, selama hal-hal yang dilakukanya tidak membahayakan, sebaiknya biarkan saja namun tetap perlu diawasi.

Beda abang, beda pula si bungsu. Adek tidak terpaut terlalu jauh dengan abang. Saya agak lupa tepatnya berapa bulan usia adek. Ketika saya datang kemarin, ibunya sedang pergi ke pasar untuk membeli bahan-bahan masakan, sehingga adek ditinggal bersama teteh pengasuh. Adek tampak sedang main sendiri dengan barang-barang yang ada disekitarnya. Ternyata adek lebih senang dengan mainan yang berbau laki-laki, seperti mobil dan truk mainan, yang mana mainan tersebut adalah milik abang, jadi ketika abang mendapati adek memainkan barang-barang milikinya, ia akan marah. Di usia ini adek berada dalam tahapan basic trust vs mistrust. Pada tahapan ini, seorang anak mengembangkan rasa percayanya terhadap orang tua atau pengasuhnya. Jika orangtua atau pengasuhnya berhasil membuat sang anak percaya, membuat anak nyaman dengan rasa ketulusan dalam pengasuhannya, anak akan merasa nyaman, merasa terlindungi dan percaya terhadap lingkungan sekitar. Jika melihat kondisi adek, ia adalah seornag bayi yang anteng dan tidak rewel, ia cukup mudah beradaptasi dengan lingkungan, digendong dengan siapa saja ia merasa nyaman-nyaman saja. Saya sudah lama tak bertemu dengannya, tapi ketika kemarin saya gendong, dia terlihat nyaman dan nempel begitu saja. Justru ia menyangka saya adalah ibunya, terlihat dari ia yang mencari sumber ASI, hehehe. 

Punya anak nampaknya tak mudah ya, tapi terlihat sekali bahagianya dengan memiliki keturunan yang sholeh/sholehah. Selamat berkembang, selamat berproses keponakan-keponakankuuu! Muah!

.annisaauliajustmine


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar