Minggu, 02 Oktober 2011

Darimu aku belajar

Assalamualaikum ma.

Hari ini memang belum hari ulang tahunmu, tapi aku takut besok aku tak bisa menyampaikan apa yang ingin aku utarakan tentang betapa indahnya pribadimu di esok hari, karena aku tak yakin bisa membelah kesibukan kuliahku.

Ma, bagiku mama adalah ibu terbaik diseluruh dunia. Bahkan waktu kecil aku selalu menganggap, tidak ada orang yang lebih baik lagi dibandingkan dirimu. Saat kita masih tinggal dirumah yang cukup sangat sederhana di Bekasi, kau sering sekali berbagi dengan bapak sol sepatu yang ketika ia sedang bekerja, kau menyuruhnya untuk mengerjakan diteras rumah agar ia tak kepanasan serta memberinya minuman untuk sekedar melegakan kerongkongannya yang kering karena lelah. Hampir disetiap masijd atau musholla yang kita sholati kau selalu menyempatkan memasukan beberapa rupiah kedalam kotak amal. Darimu aku belajar arti berbagi.

Ma, tau kah kau bahwa sesungguhnya aku sedih melihatmu harus bekerja setiap harinya. Berangkat di pagi hari ketika nisa kecil masih terlelap. Dan baru kembali ketika matahari kembali ke peraduannya. Atau kadang, malam hari kau baru pulang, karena begitu banyak pekerjaan yang harus kau selesaikan. Tidak ada lagi yang dapat kulakukan untukmu selain membuatkanmu air hangat untuk mandi dan sebuah senyuman dibalik pintu menyambut kehadiranmu. Sungguh ma, andai ada yang dapat kulakukan lebih dari itu, akan kulakukan. Darimu aku belajar kerja keras.

Ma, aku tau, banyak sekali yang harus kau pikirkan setiap harinya. Aku bisa melihatnya dari alismu yang sering saja bertaut meskipun kau sedang tidur, menyiratkan betapa lelahnya dirimu. Selalu berpikir memutar otak untuk kami, kerjaanmu, ibadahmu, hidupmu setiap harinya. Ma, aku tau kau lebih senang menyimpan semua masalah, pikiran, asamu sendiri dibandingkan berbagi dengan saudaramu. Tapi aku ada ma, kau bisa berbagi denganku, agar otakmu tak terlalu berat berfikir, aku sedih melihatnya. Darimu aku belajar integritas, tanggung jawab.

Ma, setiap kau menceritakan kisah itu. Kisah perjuanganmu menjagaku sewaktu masih dalam rahimmu. Saat itu, kau berangkat ke kantor dengan membawa sertaku dalam perutmu yang masih berusia beberapa bulan, dan kuyakin aku sudah cukup berat saat itu. Dan dalam perjalanan, kau terjatuh dari motor yang kau tumpangi. Sungguh aku tak dapat berkata kata mendengarnya. Dengan adanya diriku, tak pernah menjadi halangan bagimu untuk terus bekerja, menyambung hidup. Aku tak pernah masalah dengan adanya dirimu menjadi wanita karier. Kata mereka, anak dengan ibu yang bekerja, akan kekurangan kasih sayang. Tapi kurasa mereka salah, karena aku sama sekali tidak merasakannya. Kau selalu pandai mengatur waktumu. Aku bangga sekali padamu ma, kau mengagumkan. Darimu aku belajar manajemen diri, serta efisiensi waktu yang baik.

Ma, buatku kau lah panutanku. Buatku kau luar biasa. Selalu bangun dikala semua mata masih terpejam, bersujud ditengah heningnya malam. Aku seringkali mendengar doamu dimalam hari, kau ingin kedua anakmu ini menjadi anak yang sholeh dan sholehah, kita bisa menjadi keluarga yang bahagia dunia akhirat serta dapat bertemu kembali disurga Allah kelak. Sungguh ma, aku sedih mendengarnya. Aku masih jauh dari titel itu. Sholehah. Aku masih jarang bangun malam, memohon kepada-Nya. Ketika adzan aku belum langsung bergegas sholat, tidak seperti dirimu yang sebelum adzan berkumandang sudah bersiap-siap untuk sholat. Maaf ma. Darimu aku belajar kecintaan kepada Tuhan.

Ma, kadang kemandirianmu itu membuatku khawatir. Aku tau kau terbiasa kesana kemari sendiri dan sepertinya aku mewarisi sedikit keberanianmu itu. Tapi tau kah kau ma, kejahatan diluar sana membuatku takut, takut kalau sesuatu terjadi kepadamu. Meski aku tau kau terbiasa sekali melakukannya sejak dulu. Darimu aku belajar mandiri.

Ma, disaat aku tak sengaja menabrakkan mobilmu, meski dengan sedikit omelan, kau beranjak menyuruhku mencari buku premi asuransi dan menyuruhku menelfon asuransi agar mobilmu itu bisa segera diperbaiki. Atau ketika dompetku hilang, kau segera menyuruhku menelfon call center bank untuk segera memblokir atm-ku, meskipun sebelumnya kupingku ini penuh dengan nasehat dan ujaran kekecewaanmu terhadap kecerobohanku. Tapi taukah ma, kau selalu ada untuk memberiku jalan keluar. Jalan keluar dari setiap masalah yang kuhadapi selalu bisa kudapatkan darimu. Aku bangga padamu. Darimu aku belajar untuk berorientasi pada pemecahan masalah.

Ma, taukah dirimu, jikalau aku diberi kesempatan untuk mengulang masa lalu, dengan senang hati aku pasti mau. Tapi aku tidak mau melewati malam di kelas 3. Malam dimana aku menangis dimeja makan di depan buku tulisku karena tak bisa mengerjakan soal matematika dengan metode porogapit yang kau ajarkan. Saat itu aku mengganggapmu jahat sekali membiarkanku menangis dan tidak mengizinkanku untuk tidur, padahal saat itu sudah jam 11 malam, cukup malam untuk anak 3 sd. Tapi sekarang aku tau, itulah caramu, mendidik kami sampai kami bisa. Darimu aku belajar ketelatenan dan pantang menyerah.

Ma, sungguh aku tak kuasa melihatmu menangis ketika adikku berteriak ke arahmu. Sungguh, demi Allah aku tak rela, melihatnya terus menerus menyakitimu. Tapi aku tak mengerti, mengapa kau selalu saja melarangku membelamu dihadapannya. Kau bilang, hanya akan membuatnya menjadi benci kepadaku karena terlalu menggurui. Ma, aku hanya ingin melindungimu, aku tak bisa diam saja melihatmu bercucuran air mata. Aku tau ia menyita begitu banyak tempat dipikiranmu, yang hanya akan menambah berat beban tanggunganmu. Aku sedih ma melihatmu bingung dengan semua sikapnya yang menunjukkan pemberontakan, aku sedih. Aku tau kau sudah melakukan yang terbaik, tapi aku juga tidak mengerti, mengapa ia tak pernah mau mengerti. Semoga semua doamu akan segera diijabah oleh Allah, ia bisa diakhirkan menjadi anak yang baik. Darimu aku belajar kesabaran.

Ma, untuk saat ini, belum banyak yang bisa kulakukan untukmu. Katamu 'Yang penting, kakak kuliah yang bener, ibadah yang rajin, hidup kamu masih panjang kak'. Dihari ulang tahunmu besok, aku bingung ingin memberimu apa. Gaji pertamaku di saat kuliah, sudah hilang berasama dompetku yang lenyap. Besokpun aku tak bisa pulang kerumah, untuk menikmati santap malam bersama merayakan miladmu. Jika, aku punya kesempatan untuk dikabulkan doanya, aku ingin Mama diberi panjang umur yang barokah, dihindari dari semua hal buruk, sehat selalu, tambah sholehah, dimudahkan segala urusannya, keluarga kita bisa bahagia dunia akhirat dan bisa berkumpul lagi di surga Allah kelak. Ma, tanpa aku ngomong mama pasti tau aku sayang banget sama mama, karena aku ga bisa ngomong sayang-sayangan sama mama langsung, pasti bawaannya mau nangis. Jangankan ngomong sayang ke mama, aku sendirian nyanyi lagu 'Bunda' aja ga sanggup, pasti nangis ditengah lagu. Jadi setiap pelukku dan cium dipipimu yang mulus itu, tandanya aku sayang mama ya.

Ma, aku sedang dalam perjalanan. Dalam perjalanan hidupku yang katamu masih panjang menuju masa depan. Kuharap, disetiap perjalananku hingga akhir perjalananku nanti, aku bisa melihat senyummu selalu. Aku menunggu waktuku, menunggu kesuksesanku kelak. Karena aku ingin sekali membalas semua yang pernah kau berikan padaku. Dampingi aku ya ma. Mama cantik, Aku sayang mama.

Terakhir, selamat ulang tahun ibuku yang hebat. Semoga Allah selalu melimpahkan Rahmat dalam setiap hela nafasmu, diberikan kekuatan untuk menjalani hidup sebaik baiknya, sehat selalu dan selalu diberkahi oleh Allah.

dari kakak,
.annisa aulia jasmy


1 komentar:

  1. demi apapun. baru di paragraf pertama pun saya udah nangis bacanya. kehebatan ibu kamu, serta besarnya rasa cintamu padanya. sedangkan saya? apa pernah mikirin perasaan ibu saya? yang selalu saya berikan adalah (hanya) perlawanan.

    semoga saya bisa mencontoh ketaatanmu pada ibumu.

    oya, selamat ulang tahun untuk ibumu.

    btw, ini postingan terbaik yg pernah saya baca di blog ini. selamat :)

    BalasHapus