Kamis, 02 Februari 2012

failure means delay, not defeat

masih seperti kemarin, pagi ini masih diwarnai dengan konflik antar kelas a dan b untuk jadwal gue di semester berikutnya. tapi setidaknya SIAK NG masih sedikit bersahabat dibandingkan hari pertama regol (registrasi online) tanggal 31 kemarin. bayangin aja seluruh mahasiswa se-ui yang sekian banyak itu di saat yang bersamaan mengakses web yang sama. jelas aja ga bisa masuk. hati mulai gelisah takut ga dapet kelas dengan dosen yang diidam-idamkan. galau akademik berjamaah pun mulai marak di fb maupun twitter sampe sempet jadi TT gitu. semuanya marah-marah karena SIAK NG nya error -..-

sambil mikir-mikir bagaimana hidup gue selama 1 semester ke depan. karena akan ada banyak perubahan. banyak sekali. gimana ya harus menanggapinya? gimana ya harus menyikapi ini? ada sedikit keraguan akan sikap apa yang harus gue ambil. gue bingung dalam diam. gue rasa cerita ke siapapun mereka ga akan mengerti, meskipun mereka bilang mengerti, tapi mereka tidak merasakannya bukan?

sebelumnya memang banyak yang sudah mengingatkan. ini berat loh. ini ga gampang, jadi kamu harus berhati-hati. itu kata mereka. saat itu gue hanya mendengarkannya dan menjadikan itu semua motivasi buat gue, kalo begitu gue harus bisa menaklukannya. terlalu sombong pada diri sendiri tanpa menyadari bahwa kemampuan yang dimiliki sebenarnya standar, terlalu standar.

waktu berlalu, berlalu dan berlalu. tanpa sadar, ini sudah tahun kedua ya rupanya. Alhamdulillah diberikan kesempatan dan kepercayaan untuk bisa menjalaninya sejauh ini. aneh, kok bisa ya? selalu bertanya, kok bisa ya sampai sejauh ini? buat gue ini merupakan anugrah. lebay? memang berlebihan kedengerannya. tapi menurut gue, untuk sampai ke tempat sejauh ini dibutuhkan pengorbanan yang besar. gue bukan anak cerdas. yang diajari ini itu langsung bisa ngerti. oleh karena itu gue butuh waktu lebih untuk mencerna semua sampai mengerti.

tahun pertama, gue bagai anak yang baru keluar kandang, baru melihat dunia luar. masuk dunia baru bikin gue penasaran dengan semua. coba ini itu. sampai ga peduli sama diri sendiri yang collapse. tapi gue tau konsekuensinya. karena gue bukan anak yang cerdas, sebanyak apapun kegiatan yang gue coba, selarut apapun gue pulang, secapek dan sengantuk apapun gue waktu sampai dikosan, gue pasti akan menyisihkan waktu untuk belajar sebelum tidur dan pagi butanya. hasilnya, alhamdulillah lolos.

lalu bagaimana dengan tahun kedua ini? sepertinya gue yang bukan anak cerdas ini mulai besar kepala terhadap dirinya sendiri. merasa ah gue bisa kok, masa kemarin bisa sekarang ga bisa?. menyombongkan diri kepada dirinya sendiri seharusnya bisa jadi motivasi yang jitu, tapi ternyata kebalikan, malah menjatuhkan. bicara mengenai waktu belajar, gue ga ngerasa ada pengurangan waktu belajar, malah makin banyak. tidur makin malam. dan teman-teman dekat yang mendukung. tapi kok hasilnya begini ya? gue masih dalam masa introspeksi diri. apa yang salah? dan bagaimana memperbaikinya? atau sudahi? Wallahualam.




seorang teman yang sudah tak sejalan lagi, menyarankan gue untuk memilih salah 1 jalan aja untuk dijalani. gue harus pilih, apa gue akan menarik diri dari hidup gue sekarang terus memulai lagi awal yang baru. atau jalani aja apa yang udah gue bangun. seorang senior juga pernah berkata begini ketika gue bingung diantara 2 pilihan : pilih salah 1 dan terima konsekuensinya!
bagaimana nantinya hidup gue, tergantung dengan hasil introspeksi diri dan spirit dari outside.

.annisauliajustmine

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar