Selasa, 22 Mei 2012

Instan


Pagi ini, aku bertemu teman lama, namanya Adri. Aku yang sedang duduk di halte stasiun menunggu bis kuning menuju perpus, cuma senyum senyum aja ngeliat si Adri yang sibuk sendiri. Dari penampilannya memang terlihat belum siap untuk ke kampus, ia menenteng plastik putih (mugkin) berisi makanan dan minuman ringan. Ia melawan arus mahasiswa lain, ketika yang lain menyebrang dari arah stasiun ke kampus, dia malah dari arah kampus ke arah stasiun. Keliatannya sih dia lagi buru-buru banget.

Selain jarak kami yang lumayan jauh dan ga bakal terjangkau juga dengan suaraku yang lagi nge-bass akibat radang ini buat manggil dia, jadi kubiarkan aja dia berlalu. Eh beberapa menit kemudian, dia kembali lagi menyebrang, tapi di tengah trotoar dia bingung, dan akhirnya balik lagi ke arah halte stasiun dan duduk di sampingku. 

"Adri!"
"Eh, ada lo Nis!"

Sapaan standar bagi teman yang sudah lama tak bertemu, padahal fakultas kami bersebelahan. Setelah ngobrol-ngobrol singkat, ternyata penyebab kenapa dia bolak balik aja daritadi adalah dia itu buru-buru mau nge-cek koran. Ada apa dengan koran?  Bukan bukan. Adri bukan loper koran :p. Ternyata dia nge-cek apakah tulisannya dimuat di koran hari itu? Eeeh ternyata tulisan Adri bener dimuat loh. Hebat ya. Kriteria sebuah tulisan untuk bisa dijejerkan dengan tulisan jurnalis yang udah expert, kan ga gampang. Berarti tulisannya udah qualified kalo bisa masuk. Yang aneh, kenapa dia beli koran itu banyak, kurang lebih 5 koran deh yang dia beli. Gue pikir, saking senengnya tulisannya dimuat, yang 1 mau dia figura-in pajang di kamar, yang 1 mau dia kirim ke orang tuanya di Bandung, tenryata bukan. Yang 1 mau disimpen, terus kasih dosen, kasih narasumber, gitu gitu deh.

Yah, terlepas dari tulisan itu buat tugas kuliah, tetep aja pasti dia bangga tulisannya bisa masuk. Ah, itu sih biasa. Mungkin sebagain dari kalian yang baca merespon seperti itu. Tapi kita kan cuma tau hasilnya aja, gatau prosesnya gimana. Bisa aja tulisan yang kita anggap sederhana dan biasa itu prosesnya harus nyari-nyari narasumber yang sulit banget ditemuin, atau harus cari data-data yang susah didapetinnya. Ini dia, kebanyakan kita manusia itu maunya liat hasilnya aja, jarang liat prosesnya. Maunya sukses tapi ga masu susah. Udah terlalu 'instan' pola pikirnya. 


.annisaauliajustmine

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar