Selasa, 24 Juli 2012

Reminder


Galau itu ga melulu soal cinta.
Buat gue merindukan seorang teman jauh lebih berarti daripada galau merindukan pacar.

Sejujurnya gue agak ga mau terus ingat. Karena, kalo gue inget, yang ada malah nangis sendiri. Apalagi di bulan puasa, yang katanya kalo nangis itu hukumnya makruh.

Gue tanya "Ayah mana yang mau mencoba mengenal teman anaknya yang udah ga ada?". Gue rasa ga ada yang lain selain ayahnya....Andi. Duh mau nyebut namanya aja, hati udah mulai ga karuan.

Mungkin ga se-lebay itu. Tapi siapa pun yang pernah kenal dia, pasti ngerti banget sensasi ditinggal dia itu rasanya kayak... duh gue gatau subtitusi apa yang pas buat ngegambarin sesedih apa gue kehilangan teman dengan pribadi yang luar biasa apik ini. Dia orang baik, oleh karena itu dia pantas banget dikangenin sama orang-orang yang ditinggalkan.

Masih terbayang, seorang bocah laki-laki dengan seragam putih dan rompi hijau yang lari-lari mengejar mobil  antar-jemput dengan kedua tangan yang penuh dengan batagor, pempek, telor gulung, es campur dan baso goreng. Matanya mulai berkaca-kaca merasa percuma mengejar mobil yang mulai menjauh. Tapi, sang supir dengan berbaik hati berhenti, dan ia, bocah laki-laki itu menyunggingkan senyumnya sambil mengedip-ngedipkan matanya sepertinya kejadian beberapa detik lalu tidak pernah terjadi.

Itulah dia, ga pernah nunjukin apa yang dirasa, seperlunya aja dia perlihatkan di luar. Kenangan kami memang banyak, tapi karena ingatan gue yang kadang kali kabur jadi sulit ingat secara detil, apalagi jarak jauh yang sempat membuat hilang komunikasi. Sekalinya kami berkomunikasi dan merencanakan pertemuan, dia malah udah pergi. Gue akui, sulit rasanya ikhlas, tapi setiap liat ayahnya yang luar biasa mencoba buat ikhlas, gue jadi belajar banyak dari beliau.

Beberapa menit lalu gue berbincang via fb dengan beliau. Gue bahkan baru tau kalo ternyata almarhum sempat mengutarakan ingin jadi seorang psikolog, padahal dulu dia bilang ke gue, mau masuk UGM ambil geologi. Semoga aja dengan keputusan gue pindah jurusan, bisa jadi cara untuk nerusin cita-cita dia.

Nobody knows what's tomorrow
It might brings us to our last

Ga ada yang tau besok akan seperti apa. Siapa yang menyangka secepat ini dia pergi? Siapa yang nyangka gue bisa tembus ujian lagi? Siapa yang sangka suatu hari nanti gue bisa jadi psikolog hebat? Ga akan ada yang bisa tau bagaimana besok bakal berjalan. Jadi, lakuin aja yang terbaik seakan hari ini adalah hari terakhir lo hidup. Ini, ini salah satu pelajaran gue bisa diambil dari perginya dia.

Entah, ini udah tulisan keberapa yang gue buat karena tiba-tiba keinget dia. Tapi yaaa, ini satu-satunya cara biar bisa lega. Juga buat reminder, keputusan gue buat pindah adalah keputusan final dan harus total, makasih pelajarannya yaa ndi :) 

Me miss you
Salam kudik ;)


.annisaauliajustmine

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar