Rabu, 12 Desember 2012

Bias

Jadwal UAS udah keluar. Senin besok mulai UAS SAP, tapi entah kenapa ide-ide buat posting malah lompat-lompat di otak. Mood buat nulis emang gabisa dibuat-buat, kalo ada ide muncul yaa memang idealnya langsung dituangin karena kalo engga bisa lupa nanti, kan sayang idenya terbuang.

Rabu siang memang waktu yang tepat untuk membuat sebuah tulisan. Kenapa? Karena nanti jam 4 gue harus masuk kelas psikologi sosial, sementara gue punya jeda waktu yang cukup lama untuk baca bukunya dan terinspirasi untuk nulis. Mata kuliah ini juara deh, udah berhasil menghidupkan drive gue buat lebih produktiv nulis :). Tema yang mau gue share kali ini adalah tentang sikap. Apakah sikap itu?

Dulu, gue taunya sikap adalah suatu perilaku yang dilakukan oleh seseorang dalam menanggapi fenomena di sekitarnya. Ternyata menurut buku ini sikap adalah pernyataan evaluatif atau penilaian individu terhadap objek, nah objeknya tuh bisa apa aja, bisa manusia, hewan ataupun fenomena. Kalo kita pikir sikap itu adalah tingkah laku, ternyata salah. Yang benar, sikap itu mempengaruhi perilaku. Jadi simplenya sikap (penilaian) itu belum finalnya, baru mempengaruhi tingkah laku seperti apa yang harus kita tampilkan dalam menghadapi objek. 

Sebagai contoh dalam kehidupan sehari-hari. Di kehiduan perkuliahan. Pernahkan kuliah dengan dosen yang kurang lo sukain, entah dia galak atau punktlich banget, apapun alasannya. Tapi tetep aja kan apa yang dosen itu suruh, lo kerjain, lo tetep masuk kelas dia. Sebenernya penilaian (sikap) lo terhadap dosen itu tentu negatif bukan? Tapi dengan alasan lo harus dapet nilai bagus di mata kuliah itu, jadinya yaa lo ikutin aja apa maunya dia. Nah keliatan kan tuh sikap lo terhadap dosen itu (-) tapi tingkah laku yang lo perlihatkan justru sebaliknya (+).

Lain lagi kalo di urusan percintaan. *kenapa ngomongin cinta mulu sih*. Pernahkah mengalami proses pendekatan? Atau yang lebih sering kita dengar dengan istilah pdkt. Biasanya kita menilai respon si lawan jenis kita dengan melihat sikapnya ke kita kan? Ini namanya "Naive theory of action", yaitu kerangka kerja konseptual yang digunakan orang untuk menafsirkan, menjelaskan dan meramalkan tingkah laku orang lain. Biasanya hal ini dipengaruhi oleh harapan, keyakinan ataupun hasrat. It means kita punya ekspektasi terhadap suatu objek. Ya kalo di kasus ini objeknya adalah si lawan jenis yang lagi lo gebet. Untuk contoh kasus, coba liat pernyataan ini:

"Dia kayaknya suka nih sama gue, soalnya dia baik banget sih mau nganterin gue pulang ke rumah"

Kerangka berpikir kita sudah mendorong kita ke arah pembentukan hipotesis pribadi. Kita cenderung meramalkan tingkah laku orang berdasarkan sikap yang dilakukan objek. Padahal kalo  menurut hukum yang gue jelasin di awal, sikap tidak sama dengan tingkah laku, jadi conclusionnya adalah jangan terburu-buru menilai tingkah laku hanya berdasarkan sikapnya saja. Belum tentu dia bener suka atau menaruh perhatian lebih dengan bertingkah laku baik ke lo. Bisa aja memang dia pribadinya baik dan itu dilakukan untuk semua orang. 

Nah, jadi gitu deh cerita mengenai pembentukan tingkah laku. Jadi yaa kita harus pikir ulang lagi, jangan terburu-buru menyimpulkan sesuatu karena itu seringkali terpengaruh oleh bias yang berupa hasrat lo sendiri yang berharap. Jadi hati-hati, jangan buta :)

.annisaauliajustmine

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar