Rabu, 26 Desember 2012

seratus rupiah


Barusan sebelum gue ke warnet, gue beli air mineral di salah satu minimarket terdekat. Harga minumannya Rp 1.900 kemudian gue menyodorkan uang Rp 2.000. Dan terjadilah dialog antara gue dan mbak kasir:
"Barang yang dibeli mau diplastikin, mbak?"
"Ga usah deh mbak, buru-buru."
"Baik, ini kembalinya seratus rupiah"
"Ga usah deh, mbak"

Kemudian gue berlalu dan berpikir. Kenapa gue sok banget ya menyepelekan uang seratus rupiah? Cuma karena nilainya yang ga seberapa. Kalo diinget-inget uang satu juta cuma akan jadi sembilan ratus sembilan puluh sembilan ribu sembilan ratus kalo ga ada uang seratus rupiahnya. Begitu juga dengan uang satu milyar yang ga akan jadi satu milyar tanpa seratus rupiah. 

Bukan. Bukan karena matrealistis gue langsung kepikiran uang, hanya saja gue merasa menyepelekan hal kecil itu sesungguhnya dampaknya besar loh. Suatu perjalanan jauh ga akan pernah berarti tanpa sebuah langkah kecil, bukan? Jadi ada baiknya nih buat mengubah mainset kita tentang sesuatu yang sifatnya kecil, bukan berarti ga berguna, bukan berarti ga ada artinya, justru dia lah yang melengkapi sebuah kebesaran, melengkapi yang belum padu :)


.annisaauliajustmine

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar