Senin, 21 Oktober 2013

?

Ibarat rumah yang lama ditinggal penghuninya, mulai terasa tak nyaman karena tak ada nyawa yang menghidupkan. Ohya, rasanya juga agak asing. Rasanya bukan seperti yang biasa. Begitulah rasanya tiba kembali di sini. Setelah dua bulan bungkam, menutup pintu bagi kata yang terbang minta keluar dari tempatnya, akhirnya ku biarkan mereka bebas.

 Tiga puluh kali dua hari ternyata cukup untuk membuat perubahan meski tidak terlalu signifikan. Saya berubah. Ya, berubah. Berubah meskipun saya tetap Annisa. Aneh rasanya membaca kata yang saya cipta sendiri dalam fase kehidupan sebelumnya. Salah seorang significant other saya memberi komentar terhadap rumah saya ini. Katanya 'Gue-Lo' itu tidak menggambarkan kedewasaan saya dalam berpikir. Hmm, kemudian saya bertanya kepada diri sendiri "Sudahkah saya cukup dewasa?"

Atas apa yang telah dia katakan, karena saya sangat menghargainya dan ternyata setelah kembali dipikir-ada benarnya juga, maka saya memutuskan untuk mengubah kata ganti orang pertama-agar lebih netral dan saya rasa lebih memantapkan jejak yang saya tinggalkan di sini. Omong-omong, mengenai pertanyaan turunan dari apa yang dia katakan, saya sebenarnya belum yakin benar apakah saya sudah cukup dewasa. Bukan. bukan soal usia. Pola pikir, perilaku serta kemampuan membuat keputusan yang tepatlah yang mengindikasikan kedewasaan. 

Dalam kurun waktu dua ratus sembilan puluh empat hari, hidup saya mengalami beberapa perubahan dalam beberapa aspek. Secara de facto, sekarang ada seorang significant other yang akhirnya tiba. Dulu, absensinya tak ada pengaruhnya, tapi sekarang, ya tinggal sebut saja lawan katanya. Ini bukan rangkaian kata manis yang bisa membuat diabetes-hadirnya cukup membuat kupu-kupu dalam perut saya tidak berhenti beraktifitas dan harus diakui ia membuat perubahan yang cukup signifikan terhadap perkembangan kedewasaan saya-oleh karenanya, bersama adalah pilihan terbaik. Pahit adalah menyadari akhir yang tak pernah indah namun tetap berusaha. Sudahlah tak kan habis berpikir dibuatnya. Coba sejenak melupakan bagian pahitnya, setidaknya saya sudah berada dalam proses pendewasaan diri. Sakit dan pahit adalah bagian dari pendewasaan bukan?

Perlu diberi pembatas antara bijak menyikapi, bersabar dan bodoh. Seorang dewasa akan menyikapi masalah dengan bijak. Seorang yang bijak tidak akan begitu mempermasalahkan masalah secara gegabah, tidak marah dan juga meledak. Seorang yang bijak pasti sabar menanggapi masalah, bahkan karena porsi sabar yang berlebihan, dia mengesampingkan masalah tersebut dan lupa bahwa masalah itu adalah benar masalah. Hingga masalah lain timbul, menumpuk dan makin fatal. Melihat dari perspektif lain, bukankan menerima masalah sebagai bukan masalah dan menerima dirinya terus menerus mengalah dalam masalah adalah bodoh? Jika ditarik dalam satu garis lurus persamaan, bahwa dewasa-bijak-sabar adalah kata lain dari bodoh? Tunggu, memang tidak sesederhana penjelasan barusan, tapi memahami secara singkat kurang lebihnya pasti paham. Tenang, ini bukan maksud menyudutkan kamu yang merasa dewasa, bijak dan sabar, tapi ini sindiran halus bagi diri saya sendiri. Agaknya saya sendiri yang harus membuat batasan jelas di antaranya. Nanti kalau sudah saya temukan, pasti akan saya bagi di sini, agar orang yang merasa dewasa-bijak-sabar tidak merasa sisi lain dari apa yang sudah dia lakukan adalah bodoh. 

.annisaauliajustmine


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar