Jumat, 15 November 2013

Separation Anxiety

Sebuah gejala yang tepat untuk menggambarkan kondisi seseorang yang khawatir akan sebuah perpisahan. Hal ini muncul karena ada keinginan untuk terus bersama. Terminologi ini sering digunakan untuk menjelaskan ketakutan bayi saat ditinggal ibunya. Memang rasanya tidak bijak sekali, jika di usia yang terbilang dewasa, masih memiliki perasaan takut terpisah. Perkembangan usia yang semakin matang seharusnya merupakan hasil produksi adaptasi yang terakumulasi sejak kecil. Tapi kenyataannya tak jarang saya mengalami kecemasan ini. 

Sejak kecil ibu saya selalu mengingatkan untuk tidak bergantung kepada orang lain. Jadilah pribadi mandiri yang utuh. Janganlah mudah rapuh karena pihak luar tidak bisa memenuhi apa yang kamu mau. Dalam setiap interaksi yang saya jalin, saya berusaha untuk berdiri tegap tanpa mengharapkan ada penopang. Memang benar, dengan memposisikan diri berdiri di kaki sendiri berhasil membuat saya dapat melakukan aktifitas dengan baik, akan tetapi saya tidak bisa meninggalkan atribut saya sebagai seorang social animal. Kodratnya akan selalu membutuhkan orang lain. Apalagi saya lahir dalam budaya allocentric.

Saya benci perpisahan. Beberapa orang-orang terdekat saya, pasti tau siapa anak yang menangis paling deras saat perpisahan sekolah. Saya tak pernah mengerti, mengapa harus selalu ada perpisahan yang menyakitkan di balik pertemuan yang indah. Mengapa kehadiran tak bisa selalu tercipta? Saya terus bertanya bagaimana caranya mempertahankan kehadiran seseorang atau sesuatu yang ada. Andai ada cara semudah membalurkan formalin. Saya lelah terus dihantui kecemasan ini. Satu-satunya cara untuk berhenti dari kelelahan ini adalah ikhlas-begitu sayup terdengar. Seandainya ikhlas tak sesulit mencari kata ikhlas dalam surat al-ikhlas, pasti sudah saya lakukan sejak lama.

Jika kamu tau sedalam itu kebencianku terhadap perpisahan.


.annisaauliajustmine

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar