Senin, 30 Desember 2013

Looking for Herr Bashert

Dalam bahasa sehari-hari, bashert bisa disandingkan dengan kata soulmate. Tapi saya lebih suka mendengarnya tetap begitu, jika dikatakan dalam  bahasa ibrani, maknanya lebih dalam, yaitu  'seseorang yang memang diperuntukkan baginya'. Manis.

Lalu siapa bashert saya? Haha, mana saya tahu.

Semalam saya sulit terpejam, karena temperatur tubuh yang meninggi. Saya yakin betul, penyebabnya adalah karena kemarin berusaha meredakan demam seseorang yang saya harapkan menjadi bashert saya. Bibir yang biasanya merah merekah berubah putih pucat, nafasnya tak teratur karena hidungnya tersumbat. Dahinya, tangan serta beberapa bagian tubuhnya panas, sedangkan kakinya dingin. Suhu tubuhnya naik turun tak tentu. Saya ini bukan dokter, dan tidak terlatih untuk menjadi seorang dokter. Jadi saya hanya bisa melakukan sesuatu yang saya pikir dapat meredakan sakitnya. 

Ketika dahinya kembali memanas, saya letakkan tangan saya di atas dahinya, ya itu semua berdasar alibi bodoh. Dengan begitu saya berharap hawa panasnya dapat berpindah tempat dan suhunya kembali normal, yaa berprinsip seperti kompres yang biasa kalian gunakan di rumah. Jika suhunya sudah kembali normal, saya beralih ke kakinya. Memijat beberapa titik saraf yang kiranya dapat membuatnya rileks. Bukan, saya bukan ahli pijat apalagi ahli saraf. Dalam keadaan seperti ini saya hanya bisa mengusahakan apa yang saya bisa untuk membuat kondisinya sedikit lebih baik, bukan sembuh sepenuhnya. Sejujurnya saya tidak tega membiarkannya begitu sambil menempuh jarak jauh, tapi apa dikata, memang begitu realitanya. 

Dua hari begitu dan tubuh saya tidak menunjukkan reaksi negatif. Dengan congkaknya saya katakan bahwa metabolisme tubuh saya begitu hebat, karena tetap bugar. Haha Tuhan mendengar ocehan saya rupanya. Hari ini, saya pun ikut terkapar sepertinya. Bedanya, tidak ada siapa-siapa yang bisa memijat kaki dan menempelkan tangannya di atas dahi saya. Tidak apa.

Saya belajar untuk tidak asal bicara lagi. Sesederhana soal kondisi tubuh saja, semesta langsung bergerak cepat membalas. Dang! Saya pun sakit. Apalagi bicara belahan jiwa. Saya tidak boleh congkak bicara seenaknya saja soal ini. Ya memang saya ingin ia yang menjadi bashert saya, tapi ya tetap ndak boleh ngoyo karena belum tentu dia. Bisa saja saya mengambil hak orang lain dengan mengharapkan itu, itu jahat sih. Tapi kalau sebaliknya begitu, berarti mereka yang jahat. Yah, duh apa sih ini. Pokoknya saya lepas tangan soal ini. Rezeki, jodoh, itu ada di tangan Tuhan, tapi kalau kita ga berusaha untuk mengambilnya, yaa itu akan tetap ada di tangan Tuhan. Jadi ya usaha tapi pasrah saja nampaknya lebih bijaksana :)


.annisaauliajustmine

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar